vaksin bcg sebabkan bisul

Mengapa Vaksin BCG Menimbulkan Bisul?

Vaksin BCG merupakan satu imunisasi wajib pada bayi dan anak-anak Indonesia, selain hepatitis B, polio, campak, dan DPT-HB-HiB. BCG, singkatan dari Bacillus Calmette-Guerin, melindungi kita dari tuberkolosis.

Vaksin BCG memiliki efek perlindungan terhadap tuberkolosis (TB) berat dan radang otak akibat TB. Vaksin ini tidak sepenuhnya efektif mencegah infeksi TB primer atau reaktivasi infeksi TB yang laten.

Fakta menarik dari vaksin BCG adalah bahannya dikembangkan dari bakteri yang menyebabkan tuberkolosis pada sapi. Namanya kuman Mycobacterium bovis. Manusia bisa tertular tuberkolosis sapi lewat kontak dengan hewan tersebut atau minum susu sapi yang terinfeksi bakteri TBC. Namun, manusia tidak bisa terjangkiti bakteri TBC sapi dari galur vaksin TBC karena bakterinya sudah dilemahkan atau dalam kondisi tak berdaya menimbulkan penyakit.

Vaksinasi BCG, yang disuntikan ke bawah kulit, kerap menimbulkan bisul atau luka bernanah. Layaknya pada proses infeksi alamiah, ini merupakan respon sistem imun tubuh terhadap masuknya zat asing, yaitu bakteri hidup.

Badan Kesehatan Dunia, WHO, menganjurkan titik penyuntikan di lengan atas atau deltoid. Berdasarkan kesepakatan umum, lengan yang dipilih adalah lengan kanan. Bisul, luka, atau skar akan muncul di titik penyuntikan. Awalnya, akan timbul kemerahan di bekas suntikan, lalu muncul bisul yang berisi nanah. Setelah bisul itu mengering akan tersisa jaringan parut atau skar dengan diameter 2 sampai 6 milimeter setelah 3 bulan. Besarnya jaringan parut tergantung kekuatan sistem kekebalan tubuh dan penyembuhan anak atau bayi masing-masing.

Bisul akibat vaksinasi BCG tidak berbahaya. Jika bisul hanya muncul di lokasi penyuntikan, orang tua tidak perlu panik atau melakukan tindakan tertentu. Bayi atau anak hanya perlu diperiksakan ke dokter jika terjadi bengkak parah, demam tinggi, nanah yang berlebihan (bisa akibat jarum suntik tidak steril). Sebab, reaksi tersebut bukan gejala normal pasca imunisasi BCG. Komplikasi tersebut kemungkinan terjadi akibat infeksi sekunder bakterial akibat penanganan yang tidak tepat. Misalnya pengolesan bahan yang tidak steril pada bekas luka penyuntikan.

Waktu munculnya reaksi bisul tersebut bervariasi. Biasanya antara 2 sampai 12 pekan. Jika, bisul nongol kurang dari satu pekan, kemungkinan besar anak atau bayi tersebut sudah terpapar kuman TB. Ini disebut reaksi cepat BCG atau accelerated BCG reaction. Kondisi ini membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Pembentukan bisul pasca imunisasi BCG tidak menjadi indikasi keberhasilan vaksinasi. Tanpa bisul, bukan berarti tidak terjadi kekebalan terhadap TBC bagi bayi atau anak tersebut. Anggapan yang salah banyak muncul seiring berkembangnya kabar maraknya vaksin palsu. Banyak yang mengatakan jika tidak terbentuk bisul atau jaringan parut pada anak, artinya vaksin yang digunakan palsu dan harus divaksinasi ulang. Itu anggapan yang keliru.

Parenting Read More