cara mencegah penularan hiv

Cara Mencegah Penularan HIV dari Ibu-ke-Bayi Setelah Kelahiran

Data menunjukkan bahwa penularan HIV dari ibu ke anak adalah sumber utama infeksi HIV yang terjadi pada anak usia dengan usia di bawah 15 tahun. Berdasarkan data dari UNAIDS, di tahun 2017 sudah ada 1,8 juta anak di dunia yang positif terinfeksi HIV. Mayoritas dari anak-anak tersebut mendapatkan infeksi virus melalui penularan dari ibu ke anak. Beberapa infeksi HIV dari ibu ke bayi dapat terjadi dalam kandungan, itulah sebabnya 48 jam setelah dilahirkan bayi akan mendapatkan pemeriksaan untuk mengetahui apakah ia sudah terinfeksi atau belum. Bahkan, kalaupun infeksi tidak terjadi dalam kandungan, penularan juga dapat terjadi pada proses persalinan di mana bayi melakukan kontak dengan cairan vagina atau infeksi pada cairan ketuban.

Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bayi yang dilahirkan tidak terinfeksi HIV. Itulah sebabnya, beragam cara dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi setelah kelahiran. Salah satunya adalah dengan memberikan obat HIV pada bayi untuk mencegah penularan terjadi.

Obat AZT untuk Langkah Awal pada Bayi Berisiko

Bayi yang dilahirkan oleh perempuan dengan HIV menerima obat HIV yang disebut AZT atau zidovudine dalam waktu 6 hingga 12 jam setelah kelahiran. Bahkan, dalam situasi tertentu bayi yang berisiko HIV juga akan mendapat obat HIV lain selain zidovudine. Obat-obatan HIV ini berguna untuk melindungi bayi dari infeksi HIV yang mungkin telah berpindah dari ibu ke anak selama proses persalinan. Pemberian obat AZT pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV dilakukan untuk mencegah penularan ibu-ke-bayi dari HIV. Langkah ini dilakukan selama kurang lebih 4 hingga 6 minggu setelah lahir.

Obat Bactrim untuk Upaya Lanjutan Pencegahan

Setelah 4 sampai 6 minggu zidovudine selesai diberikan, bayi dengan risiko tinggi HIV akan menerima obat yang disebut sulfamethoxazole/trimethoprim (Bactrim). Bactrim bekerja untuk mencegah pertumbuhan pneumocystis pneumonia (PCP), yaitu merupakan jenis pneumonia yang dapat berkembang pada orang dengan HIV. Jika tes HIV menunjukkan bahwa bayi tidak terinfeksi HIV, pemberian Bactrim akan dihentikan.

Pemeriksaan Infeksi HIV pada Bayi Berisiko
Setelah lahir, perawatan untuk bayi dari ibu dengan HIV akan segera dilakukan. Termasuk juga di dalamnya pemeriksaan untuk tes HIV yang biasanya dilakukan beberapa kali, yaitu pada usia 14 hingga 21 hari, pada 1 hingga 2 bulan, dan lagi pada 4 sampai 6 bulan. Tes HIV yang digunakan disebut tes virologi sebagai upaya pencarian HIV di dalam darah. Tes ini dilakukan beberapa kali untuk mengetahui dengan pasti apakah bayi HIV negatif atau HIV positif. Berikut ini adalah ciri-ciri bayi yang terinfeksi dan tidak terinfeksi HIV:

  • Bayi yang positif HIV
    • Hasil pada dua tes virologi harus menunjukkan hasil positif.
    • Jika tes menunjukkan bahwa seorang bayi positif HIV, pemberian obat bayi harus beralih dari AZT menjadi kombinasi obat HIV (yaitu ART). ART membantu pengidap untuk dapat dengan HIV hidup lebih lama, serta hidup lebih sehat.
  • Bayi yang negatif HIV
    • Hasil pada dua tes virologi harus menunjukkan hasil negatif.
    • Hasil negatif pertama harus dari tes yang dilakukan saat bayi berusia 1 bulan atau lebih, dan hasil kedua harus dari tes yang dilakukan saat bayi berusia 4 bulan atau lebih.

Langkah Lain untuk Melindungi Bayi Dari HIV
Karena HIV dapat menyebar dalam ASI, perempuan dengan HIV tidak boleh menyusui bayinya. Dengan kata lain, susu formula merupakan alternatif yang aman dan sehat untuk pengganti ASI pada bayi yang berisiko. Selain itu, beberapa laporan mengungkap bahwa ada kasus anak-anak yang terinfeksi HIV akibat memakan makanan yang sebelumnya dikunyah oleh orang dengan HIV. Sebagai upaya pencegahan, ada baiknya untuk tidak memberikan makanan yang sudah dikunyahkan terlebih dahulu.

Itulah beberapa upaya untuk mencegah HIV menular dari ibu ke anak setelah di lahirkan. Penanganan bayi yang berisiko tinggi HIV memang memerlukan perhatian ekstra. Meskipun begitu, jika dilakukan dengan benar, si kecil akan dapat tumbuh dan hidup dengan normal dan sehat seperti pada umumnya.

Parenting

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*