Perbedaan Vaginosis dan Vaginitis

Salah satu kondisi yang menjadi masalah bagi perempuan adalah keputihan, keadaan ini muncul karena adanya beberapa faktor, salah satunya adalah vaginosis dan vaginitis. Hal ini perlu diperhatikan karena menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan 21,2 juta kasus gangguan vagina pada perempuan berusia 14 hingga 49 tahun di Amerika Serikat.

Kedua kondisi yang menjadi penyebab seorang perempuan terkena keputihan ini adalah adanya infeksi virus, bakteri dan jamur yang bisa menyerang bagian tubuh mana saja termasuk area genital. Kondisi tersebut juga memiliki gejala yang mirip, namun perlu diketahui bahwa kedua penyebab keputihan tersebut sangat berbeda.

Jenis Radan Vaginda

  • Vaginosis

Vaginosis menyebabkan seorang perempuan mengalami infeksi pada vagina, infeksi ini disebabkan adanya perubahan jenis bakteri yang ada di vagina, seperti bakteri lactobacillus. Meskipun jenis bakteri ini termasuk bakteri baik karena menghasilkan bahan kimia yang mampu mempertahankan tingkat keasaman pada vagina.

Namun dalam kondisi munculnya vaginosis, bakteri ini digantikan oleh jenis bakteri lain yang biasanya muncul dalam konsentrasi lebih kecil pada vagina. Selain itu vaginosis juga disebabkan karena aktivitas seksual, seperti berganti-ganti pasangan seks hingga penggunaan alat kontrasepsi IUD.

Perempuan yang mengidap penyakit ini dalam beberapa khusus tidak memiliki gejala, sebanyak 50 persen perempuan yang didiagnosis kondisi ini tidak merasakan gejala tertentu. Namun, kasus lain juga menyebutkan bahwa vaginosis menyebabkan munculnya bau tidak enak pada vagina dan keluarnya cairan berwarna kuning dan putih.

Keputihan yang muncul akibat kondisi ini biasanya cenderung lebih tipis ketimbang keputihan yang terjadi karena infeksi ragi vagina atau candida. Selain itu, beberapa perempuan juga mengaku muncul gejala yang mengganggu setelah berhubungan seksual. Yang perlu diketahui adalah keputusan karena kondisi tidak menyebabkan iritasi signifikan pada vulva.

  • Vaginitis

Menurut American Association for Clinical Chemistry (AACC), Merupakan kondisi peradangan pada vagina yang kemungkinan disebabkan oleg vaginosis bakterial atau faktor lain seperti adanya alergi, iritasi hingga penurunan hormon estrogen pada perempuan. Kondisi ini biasanya akan mengalami beberapa gejala seperti penambahan jumlah cairan di vagina.

Selain itu juga muncul keputihan, bau, gatal, nyeri yang terasa ketika berhubungan seksual dan buang air kecil. Bahkan sampai muncul bercak darah dan pendarahan di vagina, vaginitis didiagnosis dari pengambilan sampel cairan vagina yang bertujuan untuk mengukur keseimbangan pH, pengobatan kondisi ini bisa dengan pemberian antibiotik, anti jamur dan terapi pengganti hormon.

Radang vagina memang sangat umum terjadi, kebanyakan perempuan mengalami kondisi ini setidaknya sekali dalam seumur hidup. Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi pada wanita dengan usia berapa pun, namun paling sering terjadi para perempuan muda yang aktif secara seksual, untuk mencegahnya bisa dengan mengurangi faktor yang menjadi penyebab.

Penyebab Radang Vagina

  • Bacterial Vaginosis

Muncul akibat dari keseimbangan vagina yang terganggu, di mana bakteri jahat lebih banyak ketimbang dengan bakteri baik. Bakteri anaerobik terlalu banyak dan mengganggu keseimbangan, inilah yang menyebabkan munculnya bacterial vaginosis.

  • Infeksi Jamur

Kondisi ini terjadi jika organisme jamur, khususnya Candida albicans muncul dan tumbuh pada vagina, tak hanya menyebabkan infeksi bakteri ini juga merupakan penyebab utama adanya infeksi pada bagian tubuh lain yang lembab seperti mulut, lipatan kulit hingga bantalan kuku, selain itu jamur inilah yang menyebabkan ruam popok pada bayi.

Kesehatan Wanita

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*