Sigmoidoskopi dan 5 Cara Laian Deteksi Kanker Kolektoral

Kanker merupakan salah satu yang paling menakutkan. Selain memiliki tingkat mortalitas atau kematian yang tinggi, biaya pengobatan kanker juga terbilang mahal. Kanker ada banyak macamnya, termasuk kanker kolektoral. Kanker ini terbilang kurang populer. Namun, sudah ada prosedur medis untuk mendeteksinya. Satu dari metode yang ada adalah pemeriksaan sigmoidoskopi.

Kanker kolektoral tumbuh di bagian kolon, suatu daerah di usus besar bagian bawah yang terhubung dengan rektum atau anus. Nama lain dari kanker jenis ini adalah kanker kolon atau kanker rektum. Penamaan tersebut tergantung di mana masalah itu ditemukan.

Sama seperti kanker-kanker pada umumnya, kanker akan jadi masalah bila seseorang terlambat mendeteksinya. Sebab kanker yang sudah berada di stadium lanjut terlanjur tak terkendali dan menyerang bagian tubuh lain. Oleh karena itu, upaya terbaik mengatasi kanker adalah mendeteksinya sedini mungkin agar dokter dapat menjinakkan sel-sel yang tumbuh secara tidak normal tersebut.

Berkaitan dengan kanker kolektoral, deteksi bisa dilakukan dengan tindakan sigmoidoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasukkan selang tipis yang dilengkapi dengan sigmoidoskopi (kamera kecil) dan lampu yang dimasukkan melalui anus menuju usus besar bagian bawah. Sigmoidoskopi sendiri dilakukan untuk melihat adanya kanker atau polip yang dilengkapi dengan alat untuk mengambil sampel jaringan yang akan diperiksa di bawah mikroskop.

Sigmoidoskopi bukanlah satu-satunya metode. Saat ini dunia kedokteran telah memiliki beragam cara untuk dapat mendeteksi kanker di daerah tersebut. Apa saja? Berikut di antaranya:

  • Pemeriksaan CT Kolonografi

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan CT scan untuk menampilkan gambar usus secara keseluruhan dengan jelas, agar mudah untuk dianalisis. Kemudian, setelah dipastikan bahwa peserta mengidap kanker kolorektal, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjut guna menentukan tahapan (stadium) kanker. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan setelah melakukan CT scan, antara lain PET scan, rontgen dada, dan MRI.

  • Pemeriksaan Feses

Pemeriksaan feses untuk mendeteksi kanker kolektoral dilakukan dengan beberapa cara atau langkah pemeriksaan, antara lain:

  • Pemeriksaan FIT atau FIT-DNA. Pemeriksaan yang satu ini dilakukan dengan menggabungkan beberapa pemeriksaan guna mendeteksi adanya perubahan DNA pada feses yang tidak bisa dilihat hanya dengan menggunakan mikroskop.
  • Pemeriksaan darah samar atau fecal occult blood test (FOBT). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan darah yang terdapat pada feses. Pemeriksaan ini terbagi dalam dua jenis, yaitu:
  • Fetal immunochemical test (FIT), yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan mencampurkan feses dengan cairan khusus ke dalam mesin yang mengandung antibodi guna memeriksa adanya kandungan darah pada feses.
  • Guaiac FOBT, yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan menempatkan feses pada kartu khusus yang diberi bahan kimia. Jika feses positif mengandung darah, kartu akan berubah warna.

Adapun metode mana yang paling tepat untuk seseorang biasanya akan ditentukan oleh dokter berdasarkan faktor-faktor tertentu.

  • Pemeriksaan Kolonoskopi

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang hampir mirip dengan sigmoidoskopi, tetapi menggunakan selang yang lebih panjang mencapai keseluruhan bagian usus besar. Cara, peralatan, dan proses pemeriksaannya pun tidak jauh berbeda dengan sigmoidoskopi.

***

Selain beberapa metode tersebut, sebenarnya terdapat pemeriksaan lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker kolektoral, seperti pemeriksaan kadar CEA dalam darah. Pemeriksaan yang satu ini akan menunjukkan kadar CEA dalam darah pengidap kanker, jika kadar CEA tinggi, maka peserta positif mengidap kanker kolorektal.

Sigmoidoskopi dan beberapa tersebut dilakukan untuk mengetahui stadium kanker dan letak kanker yang sesungguhnya. Semakin cepat seseorang melakukan tindakan-tindakan tersebut setelah mengalami gejala, mungkin akan menentukan harapan mereka ke depannya. Terkait cara mana yang paling ampuh atau efektif, semua kembali lagi kepada kebutuhan dokter dan pasien sendiri. Namun, kesemua cara di atas memiliki potensi untuk mengatasi kanker kolektoral secara preventif.

Tindakan medis Read More